Ahad, 7 Mac 2010

BELAJAR ILMU IKHLAS


 Hari ini, ketua Unit Akademik Dakwah B telah ditugaskan untuk membentangkan hasil kerja yang telah diberikan oleh Ustazah Wan Kuntom bagi kursus Aqidah & Akhlak. Tajuk yang telah dibentangkan oleh beliau adalah berkaitan dengan tema "persoalan Syirik & Kufur" dengan memfokuskan pekara yang berkaitan dengan "syirik Khafi" iaitu "Riya'". 
Dengan itu, dikesempatan ini, saya ingin mengambil peluang untuk berkongsi dengan sahabat dan sahabiah semua agar kita sama2 dapat mengenali apa itu riya' agar kita dappat menghindarkan diri daripadanya.



BELAJAR ILMU IKHLAS


“Mari ku ajarkan mu tentang ikhlas,” kata seorang guru kepada muridnya.
“Nanti saya ambilkan buku dan pena untuk menulisnya.”
“Tak payah, bawa sahaja karung guni.”
“Karung guni?” soal anak muridnya, seperti tidak percaya.
“Mari kita ke pasar!”
Dalam perjalanan ke pasar mereka berdua melalui jalan yang berbatu-batu.
“Kutip batu-batu yang besar dan masukkan ke dalam guni yang kau bawa itu,” kata guru itu memberi arahan.
Tanpa soal, anak muridnya memasukkan batu-batu besar yang mereka temui sepanjang jalan.
“Cukup?”
“Belum, isi sampai penuh karung guni itu. Lebih banyak lebih baik.”
Sampai di pasar, mereka berdua tidak membeli apa-apa pun. Gurunya hanya berlegar-legar, melihat-lihat dan kemudiannya mula beredar ke luar.
“Tok guru, kita tidak beli apa-apa kah?”
“Tidak. Bukankah karung guni mu telah penuh?”
“Ya, ya…” kata murid itu sambil memikul guni yang berat itu kelelahan. 
“Banyak beli barang,” tegur seorang kenalan apabila melihat anak murid itu memikul guni yang berisi penuh dengan batu-batu.
“Wah, tentu mereka berdua ini orang kaya. Banyak sungguh barang yang mereka beli,” bisik orang lalu-lalang apabila melihat guru dan anak murid tersebut.
“Agaknya, mereka hendak buat kenduri dengan barang-barang yang banyak itu,” kata orang yang lain.
Sampai sahaja di tempat tinggal mereka, murid tadi meletakkan guni yang berisi batu-batu tadi.
“Oh, letih sungguh… apa yang kita nak buat dengan batu-batu ni Tok?”
“Tak buat apa-apa.”
“Eh, kalau begitu letih sahajalah saya,” balas anak murid.
“Letih memang letih, tapi kamu dah belajar tentang ikhlas…”
“Bagaimana?” tanya anak murid itu kehairanan.
“Kamu dah belajar apa akibatnya tidak ikhlas dalam beramal.”
“Dengan memikul batu-batu ini?”
“Ya. Batu-batu itu umpama amalan yang riyak. Tidak ikhlas. Orang memujinya seperti orang-orang di pasar tadi memuji banyaknya barang yang kamu beli. Tapi, kamu sendiri tahu itu bukan barang makanan atau keperluan tetapi hanya batu-batu…”
“Amal yang tidak ikhlas umpama batu-batu ini?”
“Ya, hanya beratnya sahaja yang terpaksa ditanggung. Dipuji orang, tetapi tidak ada nilainya di sisi Allah. Yang kamu dapat, hanya penat…”
“Ya, sekarang saya sudah faham apa akibat jika beramal tetapi tidak ikhlas!” ujar murid itu. Sekarang dia sudah faham apa akibatnya RIYAK dalam beramal.

Pengajaran:
Ramai manusia tertipu dalam beramal kerana mengharapkan pujian orang. Padahal kata pujian daripada orang-orang itu tidak akan memberi manfaat pun kepadanya pada hari akhirat. Malah, mengharap pujian daripada manusia hanya akan menyebabkan diri terseksa kerana terpaksa hidup dalam keadaan yang bermuka-muka. Rugi benar orang yang tidak ikhlas, terseksa di dunia, terseksa di akhirat.

Jumaat, 5 Mac 2010

Betulkan Posisi Kita...

Sebuah persoalan ingin saya kongsikan buat sahabat-sahabiah yang tidak seharusnya lari daripada menjadikannya sebagai teman bermuhasabah iaitu , Kenapa Melibatkan Diri dengan Pengajian Dakwah?

saya yakin, kita semua punya jawapan yang tersendiri...



Jalan dakwah buat kita adakah satu pilihan atau telah menjadi satu kewajipan?

ya/tidak bagi anda aku tidak pasti...

Namun izinkan aku berkongsi kepada sahabat-sahabiah semua, bahawa kita perlu berganding bahu memikul beban tugas menegakkan agama ini... pernah kalian dengar atau baca mengenai firman Allah s.w.t. ini :


"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan solat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;..."  (at-Taubah :71)


 

Lihatlah kembali sejarah perjuangan Rasulullah s.a.w. dan hayatilah dengan pandangan hatimu yang luhur dan ikhlas, nescaya di sanan kalian akan melihat sebuah pengorbanan dan susah payah seorang insan yang mulia di sisi Allah menghadapi segala mehnah dan tribulasi demi menyampaikan risalah agama ini pada umat manusia.

Adakah kalian sanggup membiarkan pengorbanan itu biarlah menjadi lakaran kenangan dalam hidup kita semata-mata, atau sebagai motivasi pembangkit semangat untuk meneruskan tugas tersebut...

Lihatlah pemuda-pemudi di zaman awal kegemilangan Islam mereka bersama Rasulullah dalam perjuangan...

nama-nama seperti Zaid bin Harithah, usamah ibn Zaid, Ali ibn Abi Talib, Asma' Abu Bakar, Siti Aisyah, Fatimah Az-Zahra cukup sinonim dengan agenda perjuangan yang dirintis oleh Rasulullah s.a.w.

Seseungguhnya Islam  tidak dapat di kembalikan semula kegemilangannya melainkan dengan jalan sebagaimana jalan yang pernah mereka lalui dahulu...


Namun, bagaimana dengan diri kita hari ni?

Di mana posisi kita berada sebagai seorang yang bergelar MAHASISWA PENGAJIAN ISLAM DAKWAH?

Betulkah kita benar-benar berada di posisi kita?


 


Persoalan-persoalan yang perlu kalian jawab sendiri, jalan mana yang ingin diikuti. Samada jalan yang ingin kamu pilih sendiri atau jalan yang telah ditunjukkan oleh Peribadi Mulia yang di Cintai Allah s.w.t. junjungan besar nabi Muhammad s.a.w...



  

lihatlah di sekeliling, betapa penyakit yang melanda umat ini seolah-olah tiada siapa yang peduli. Masing-masing hidup hanya dengan dunia sendiri, asalkan aku cukup, dapat beribadah dan beramal dengan senang biar jelah apa nak jadi dengan orang lain.


Beginikah sikap kita sebagai Mahasiswa Dakwah? Harapnya tidak begitu...




  

Masyarakat menanti kunjungan kalian, tunjuk ajar kalian , memimpin mereka keluar dari kegelapan kejahilan kepada cahaya kebenaran... seharusnya cahaya kebenaran itu ada pada diri kalian kerana kalian adalah insan yang di pilih Allah untuk memegang amanah ini...

Di tangan kita ada cahya pelita yang terang untuk umat ini sebenarnya... 

Namun, ke mana kita ingin nyalakannya kalau minyak tidak ada, persiapkan dirimu dengan ilmu dan pengalaman, belajar dan berdakwahlah kerana keduanya tidak seharusnya di pisahkan...






Betulkan posisi kita...

“ Bagaimana mungkin generasi Mahasiswa  Islam Dakwah mampu selamatkan orang lain, sedang mereka berada di posisi untuk diselamatkan. dengan akhlaq dan semangat yang agakmengecewakan malah dengan imej yang ada pada kita sekarang ini adakah mampu diterima di mata masyarakat..?”
Bangkitlah sahabat2ku dari lena yang panjang, di hadapan sana tugas menanti kita... 

andai kita merasa lemah, ingatlah firman-Nya :


Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali-Imran : 139)

kalau kalian tertanya-tanya bagaimana harus mendepani semua ini, ingalah firman-Nya :


Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
(Ali-Imran : 200)

dan Jika kalian inginkan tempat pergantungan harapan, hayatilah Kalam Tuhanmu ini :

Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiKu; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya Aku bertawakkal dan dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".(at-Taubah : 129)




salam Mujahadah buat semua... JOM DAKWAH

Selasa, 2 Mac 2010

PESANAN UNTUKMU GENERASI MUDA ISLAM

SIAPAKAH ORANG MUSLIM ITU?

Insan yang tercermin dalam dirinya Islam sebagai agama dan cara hidupnya dari sudut aqidah, ibadah dan akhlaknya menepati tuntutan Islam dalam segenap aspek kehidupannya.

GENERASI MUDA PERINGKAT KEKUATAN

Merupakan generasi pertengahan umur manusia yang mencerminkan peringkat kemampuan dan kekuatan yang hangat laksana matahari yang berada dipertengahan langit pastinya sinarnya lebih kuat dan lebih panas dari sebelum dan selepasnya.


GENERASI MUDA PEMBAWA RISALAH-RISALAH

Allah menceritakan kepada kita di dalam kitab-Nya al-Quran :

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka…” (Yunus : 83)

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk”(al-Kahfi : 13)

“Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ". (al-Anbiya’ : 60)


TELADAN-TELADAN HEBAT BUAT GENERASI MUDA

Ismail ‘alaihi salam & peristiwa sembelihan :

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (as-Shaaffaat : 102)

Yusuf ‘alaihi Salam dan dugaan syahwat :

i. Ketaqwaan kepada Allah mampu mengusir syahwat

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (Yusuf : 23)

ii. Tidak mudah terpengaruh dengan rayuan, ajakan dan ancaman.

“Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela Aku Kerana (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina."
“Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." ( Yusuf : 32-33 )

Nabi s.a.w. mengajarkan kepada kita agar mengatakan :

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan musibah kami dalam agama kami, janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai kepentingan kami yang lebih besar dan tumpuan ilmu kami” 

(HR. Tarmidzi & Hakim dari Ibnu ‘Umar) – Sohih Jami’ al-Shoghir.

Sebenarnya, ada banyak lagi teladan-teladan yang dapat dimanfaatkan oleh generasi muda pada hari ini. Namun apa yang menjadi realiti, kita sendiri mampu melihat, mentafsir dan menilai jika kita menyedari yang demikian itulah yang seringkali Allah peringatkan dengan suruhan agar kita berfikir, mentadabbur dan seterusnya beramal.

Demikianlah, mereka ini teladan generasi Muda buat generasi kita… bagaimana dengan kita untuk generasi akan datang?

Persoalan yang sama-sama kita fikir-fikir dan renungkan jika kita masih tergolong dalam golongan yang mengaku beriman… (Insya Allah, Aameen…)

Teringat suatu ketika, tatkala sang Pujangga Islam Abdullah Ibn Rawahah r.a dengan kesedaran Iman yang tinggi sambil membimbing tangan Abu Darda’ r.a dan berkata :

“Marilah beriman sesaat”

Izin saya untuk mengajak sahabat dan sahabiah dengan mengulangi lafaz yang sama “marilah beriman sesaat” walaupun antara kita dan mereka punya jurang yang cukup dalam dari sudut kesedaran iman… moga sama-sama beroleh manfaat…


EMPAT KEWAJIPAN GENERASI MUDA ISLAM

PERTAMA : MEMAHAMI ISLAM SECARA SAHIH

Jika zaman lampau manusia ingin menambahkan sesuatu ke atas Islam dalam aqidah-aqidah dan mu’amalat-mu’amalatnya. Maka di zaman ini, manusia hendak mengurangkan Islam dan mengeluarkan daripada Islam banyak perkara yang termasuk dari pengajaran dan hukum-hakamnya. Mereka ingin Islam tanpa jihad, islam tanpa sempadan atau batasan, tidak perlu rejam orang yang berzina atau menyebat peminum arak dan sebagainya.

Menjadi peranan buat generasi muda pada hari ini untuk meletakkan perkara-perkara tersebut pada tempatnya masing-masing, mendahulukan perkara-perkara yang berhak di dahulukan, dan mengakhirkan perkara yang berhak di akhirkan kerana ajaran Islam tidak berada pada satu darjat. Di sana terdapat perkara-perkara berikut :

- Aqidah iaitu asas-asas Islam

- Fardhu-fardhu yang menempatkan rukun Islam

- Kewajipan-kewajipan fardhu ain dan kifayah

- Perkara dan amalan sunat

- Syirik dan pembahagiannya

- Kedudukan dosa kecil dan dosa besar DLL.


Oleh itu, wajib mendahulukan perkara-perkara yang lebih utama dan pokok dalam agama.

- Mengasaskan aqidah-aqidah

- Menegakkan fardhu-fardhu tidak boleh diremehkan

- Dosa-dosa besar wajib dicegah dengan segenap kemampuan

- Mempelajari dan memahami agama agar mengetahui peringkat-peringkat pengajaran Islam bagi diri dan orang lain.

- Memahami dan peka dengan situasi dan posisi masing-masing.

Justeru, seharusnya kita mengetahui baik dalam memahami Islam hendaklah mengambil Islam dari sumbernya yang murni iaitu al-Quran dan as-Sunnah. Tidak diragukan lagi terdapat banyak perkara-perkara yang merosakkan kebudayaan Islam seperti Israiliyyat, riwayat-riwayat hadith Dhoif, hadith-hadith palsu, sikap Guluw dan penyelewengan akal fikiran yang datang akibat percampuran kaum muslimin dengan lainnya dari agama, kepercayaan, bangsa-bangsa serta tabiat manusia.

Maka, setiap orang yang mengikut Rasulullah s.a.w. adalah khalifah baginya, dia menyeru kepada Allah atas bukti yang nyata dan cahaya yang terang benderang. Dari sini kita wajib mengetahui Islam sehingga mampu menjawab segala kesyubhatan yang wujud. Bermula untuk diri, orang lain seterusnya menjawab segala kesyubhatan.

Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud :

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (Muhammad : 14)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (az-Zumar : 22)

“…cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (an-Nuur : 35)



Persoalan yang perlu dijawab!

Cukupkah sekadar memahami, mempelajari dan mengetahui kemudian berakhir segala sesuatu?

Adakah Islam mahukan kita menjadi seorang filosof sahaja, dan semua hubungan kita dengannya hanya semata-mata dengan makrifah dan akal fikiran?

Jawapannya : tidak!

KEDUA : BERAMAL DENGAN ISLAM

Sesungguhnya Islam itu bukanlah semata-mata ilmu pengetahuan, perkataan dan perdebatan. Ketahuilah! Ia mahukan makrifah yang berhubung dengan hati, yang menggerakkan hati dan iradat yang dikatakan Allah s.w.t. pada pemiliknya :

“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama’(orang-orang yang berilmu)…” (Fathir : 28)

Nabi s.a.w. sendiri memohon perlindungan dari ilmu yang tidak mendatangkan faedah kepada pemiliknya dalam sabdanya yang bermaksud :

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari ilmu yang tidak berfaedah, dari hati yang tidak kyusuk, dari amalan yang tidak di angkat, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

‘Umar al-Khattab pernah ditanya mengenai seseorang (munafiq yang alim) katanya : “Ya, lidahnya alim dan hatinya jahil!”

Dalam athar ada menyebut : ‘ilmu itu ada dua, satu ilmu pada lidah maka ia hujjah atas anak cucu adam, dan ilmu dalam hati, maka itu ialah ilmu yang bermanfaat.

Sesungguhnya Allah telah memberi dua perumpamaan yang sangat buruk dalam al-Quran bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya :

“Perumpamaan orang2 yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (beramal dgn isinya) adalah seperti keldai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (al-Jumu’ah : 5)

Dan firman-Nya lagi :

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (al-A’raf : 175-176)

Oleh itu, kenalilah dan fahamilah tentang Islam dan beramallah dengannya sebelum engkau mengenali kaum muslimin. Kenalilah Islam itu bersandarkan sumber rujukan utamanya sebelum mengenalinya melalui orang yang mengaku islam yang berada disekeliling.

Maka, tingkahlaku yang lurus adalah buah pengetahuan yang benar terhadap Islam dan tingkahlaku berbeza dari setiap manusia. Tingkahlaku itu meningkat dan tidak terhenti di sisi satu darjat sebagaimana seorang penuntut meningkat dari Sekolah Rendah, Sekolah Menengah, Universiti hingga ke PHD.

Seorang Muslim adakalanya merasa cukup dalam perkara suruhan. Pada mulanya dengan hanya melakukan yang fardhu-fardhu, kemudian setelah itu berpindah kepada sunat-sunat dan sebahagian nawafil, kemudian Qiamullail dan Ibadah di waktu malam dan seterusnya. Begitu juga keadaannya pada sudut larangan. Mulanya dia meninggalkan perkara-perkara yang haram, kemudian yang syubhat, kemudian makruh kemudian yang harus hanya kerana takut menimbulkan dosa. Itulah keadaan orang yang bertaqwa.
Ketahuilah! “apabila azam itu benar nescaya jalan akan terang…”

KETIGA : BERDAKWAH KEPADA ISLAM

Sesungguhnya tidak cukup seseorang itu sekadar soleh pada dirinya, memperbaiki dirinya dalam masa yang sama membiarkan orang lain. Begitu pula halnya, tidak cukup sekadar beriman dan beramal soleh, bahkan mesti berpesan dengan kebenaran dan menerima pesanan dengannya. Hal ini berdasarkan apa yang difirmankan Allah dalam al-Quran yang bermaksud :

“Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,(2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”(3) (al-‘Ashr : 1-3)

Oleh itu, seawajrnya kita menyiapkan diri dengan segala kelengkapan dalam menghadapi mad’u laksana medan perang berhadapan dengan musuh penuhi dengan strategi yang mampu menundukkan musuh untuk menerima perjuangan yang kita dokong. Ingat baik-baik pesan Luqman al-Hakim ketika menasihati anaknya yang Allah rakamkan di dalam al-Quran :

“Hai anakku, dirikanlah solat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman “ 17)

Kita seharusnya juga perlu menyedari bahawa jalan dakwah ini pasti ada halangan dan rintangannya. Namun semua itu seharusnya menjadikan kita lebih kuat dan bukan menjadi lemah. Cuba perhatikan adakah dakwah kebenaran yang tidak ditentang? Setiap dakwah pasti ada penentangnya dan mempunyai pembela. Demikianlah halnya yang berlaku kepada para nabi dan rasul serat umat yang terdahulu. 

Maksud firman Allah s.w.t. :

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, iaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, nescaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am : 112)

Oleh itu dikatakan : “Sesungguhnya kewajipan generasi muda pada zaman ini ialah mempersiapkan dirinya untuk berdakwah kepada Allah.” Setelah itu akan lahirnya generasi yang akan diikat dengan kefahaman Islam yang sahih untuk bersama-sama berjuang menegakkan Islam yang murni.


KEEMPAT : MENGIKAT HUBUNGAN ATAS ISLAM

Sesungguhnya Islam tidak akan terserlah kebenaran dan keagungannya dalam bentuk perseorangan, bahkan amalan persendirian adalah tidak cukup. Ianya mesti dilaksanakan dalam bentuk jamaah dengan mengikat persaudaraan dan hubungan antara satu sama lain kerana Allah. Berkasih saying kerana Allah, saling menziarahi kerana Allah, berkumpul kerana Allah, berkorban kerana Allah, saling member pemahaman dalam masalah-maslah yang dikongsi bersama sekalipun berbeza jemaah. Maksud firman Allah s.w.t. :

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (al-Anfal : 73)


Demikianlah empat perkara yang menjadi tanggungjawab para generasi muda pada hari ini yang perlu mereka sedari. Seharusnya mereka memeriksa diri, apakah telah menunaikan hak dan tanggungjawab ini. Kita inginkan satu daulah bagi Islam yang melindungi akidah, syariat, akhlak, kebudayaan, ikatan dan peraturan hidup.

Yakinlah! bahawa Islam pasti akan menang, cumanya jalan menuju kemenangan itu yang perlu ditelusuri dan bukan sekadar menunggu ianya dating bergolek. Jadilah sebahagian dari unsur yang membawa kepadanya (kemenangan) bukan hanya sekadar melihat bahkan bersembunyi dan hanya keluar bila Islam telah memperoleh apa yang dijanjikan Allah. Malulah kepada Allah dan orang-orang yang beriman.

Sedarilah! Bahawa engkau tidak akan mampu mengecapi kemanisan dan hakikat perjuangan yang di bawa oleh para nabi dan Rasul sehingga engkau melalui jalan sebagaimana yang telah mereka lalui. Oleh itu, hendaklah engkau mengambil pelajaran dari sejarah yang dekat dan jauh. Orang yang ingin Berjaya tidak akan Berjaya kecuali bila dia sanggup merintis jalan orang-orang yang telah berjaya.

Islam pernah Berjaya sebelum ini, dan hari ini juga mampu untuk mengulangi sejarah kejayaan tersebut. Semua ini akan mampu dikecapi dengan mengkaji serta merintis jalan-jalan yang telah dilalui oleh mereka suatu ketika dahulu.

Isnin, 1 Mac 2010

SINERGI ZIKIR DAN FIKIR

“Manusia pada hari ini begitu hebat berfikir. Lihat sahaja berapa ramai yang memiliki rumah besar, kereta besar hasil kekayaan kerana hebat berfikir. Surau dan masjid cantik kerana hebatnya manusia berfikir. Tetapi satu yang perlu dimuhasabahkan sejauhmana kita berzikir. Seramai mana manusia yang akan hadir ke surau dan masjid walaupun ianya cantik”, kata seorang ustaz sebelum menutup kuliah maghribnya di sebuah Surau. Kepala penulis terus tertunduk ke bawah mengenangkan terlalu sedikitnya zikir penulis kepada Allah. Ditambah pula musim-musim peperiksaan ini, begitu ramai mahasiswa memerah otak berfikir untuk cemerlang dalam peperiksaan tetapi soal zikirnya masih kurang. Lantas terfikir untuk berkongsi artikel ini sebagai muhasabah diri dan untuk manfaat bersama.


Zikir di sini bukan hanya sekadar zikir selepas solat atau yang disebut dengan bibir akan tetapi segala soal mengingati Allah. Solatnya, doanya, bacaan al-Qurannya dan sebagainya. Jika direnung, adalah menjadi sesuatu yang sangat penting soal untuk menggabung jalinkan zikir dengan fikir. Sebagai contohnya, firman Allah dalam surah Yunus ayat 87 :


Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya (Harun) : "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat solat dan Dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman".


Ayat ini menceritakan perihal Nabi Musa dan Harun membawa umatnya berhijrah setelah dihalau dan ditekan oleh Firaun. Maka dengan wahyu dari Allah, Nabi Musa menjadikan beberapa rumah di Mesir sebagai tempat solat. Ulama’ tafsir yang haraki dalam menghuraikan ayat ini menyatakan bahawa, “dalam perjuangan, tidak cukup hanya sekadar strategi dan semangat, tetapi perlu dilengkapkan dengan ‘solat’ “. Huraian tersebut mengingatkan kita betapa penting soal ibadah dan tarbiyyah ruhiyyah disamping menyusun strategi dan sebagainya. Maka jelas kepada kita betapa penting soal zikir dan fikir ini dijana bersama.


Rasulullah, Zikir dan Fikir.


Rasulullah antara manusia yang hebat dalam kepimpinan, banyak strategi dan kuat berjuang. Lihat sahaja peristiwa perjanjian Hudaibiyyah dan peristiwa-peristiwa lain yang jelas menunjukkan kebijaksanaan baginda. Strategi hjrah baginda menggunakan pelbagai posisi manusia dan haiwan sangat mengkagumkan. Baginda sangat sibuk dengan urusan ummat namun persoalan zikir tidak sekali-kali diabaikan. Lihat sahaja, tatkala pulang dari gua Hira’ kesejukan kerana pengalaan pertama berjumpa dengan Jibril, Rasulullah meminta Khadijah menyelimutkanya. “Selimutlah aku, selimutlah aku”. Maka Khadijah menyelmutkannya.


Turun ayat surah Muzzamil memerintahan baginda bangun menghidupkan malam mengingati Allah sebagai bekalan ruhiyyah dalam menempuh cabaran dalam perjuangan. Dalam peristiwa yang lain, tatkala Rasulullah solat sehingga bengkak-bengkak kaki baginda, isteri tercinta bertanya mengapa baginda sangup bersolat sehingga sedemikian rupa sedangkan baginda sudah dijamin akan masuk ke syurga? Namun baginda menjawab, “salahkah aku hendak menjadi manusia yang bersyukur?


Sultan Muhammad al-Fatih, Zikir dan Fikir.


Penulis tercari-cari, apakah hebatnya beliau sehingga telah disebutkan oleh Rasulullah dalam hadis, lebih kurang 800 tahun sebelum kelahiran al-Fatih ketika peperangan Khandak :


"..Constantinople (kini Istanbul) akan jatuh ke tangan tentera Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja, tenteranya adalah sebaik-baik tentera……" (Hadis riwayat Imam Ahmad)


Akhirnya penulis menemui kisahnya. Ringkasnya, semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah meneliti dan meninjau usaha ayahnya menawan Constantinople. Bahkan baginda terus mengkaji tentang usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keazaman yang kuat untuk beliau meneruskan cita-cita umat Islam zaman berzaman itu. Ketika menaiki takhta pada tahun 855H / 1451M, baginda telah mula berfikir dan menyusun strategi untuk menawan kota berkenaan. Sultan Muhammad Al-Fatih juga berusaha untuk mempertingkatkan kelengkapan senjatanya. Beliau telah mendapatkan khidmat pakar membina meriam bernama Orban. Beberapa meriam telah dibina termasuk Meriam Diraja yang masyhur. Catatan menceritakan betapa meriam ini adalah yang terbesar di zaman berkenaan. Beratnya beratus tan dan memerlukan beratus tenaga tentera untuk mengangkutnya. Beliau juga menyediakan kira-kira 400 buah kapal laut untuk tujuan yang sama.


Paling mengkagumkan penulis, Sultan Muhammad Al-Fatih telah menemui satu kaedah luar biasa untuk membawa kapalnya masuk ke perairan Tanjung Emas. Kaedah yang tidak pernah terfikir oleh mana-mana tentera sebelumnya untuk melakukannya. Beliau telah memanggil tenteranya dan menyarankan kepada mereka supaya membawa kapal-kapal itu masuk ke perairan Tanjung Emas melalui jalan darat! Malam itu juga, tentera ‘Uthmaniyyah dengan semangat dan kekuatan luar biasa telah berjaya menarik 70 kapal dari pantai Besiktas ke Galata melalui bukit yang begitu tinggi dengan jarak melebihi 3 batu! Tiada siapa yang dapat membayangkan bagaimana semua itu boleh berlaku hanya pada satu malam. Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menceritakan bagaimana seorang ahli sejarah Byzantine berkata, "Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah menukar darat menjadi lautan, melayarkan kapalnya di puncak gunung dan bukannya di ombak lautan.


Sesungguhnya Muhammad Al-Fatih dengan usahanya ini telah mengatasi Alexander The Great!" dipendekkan cerita, baginda telah berjaya membuka kota Constantinople.


Pada kali pertama solat Jumaat hendak didirikan selepas pembukaan Constantinople, timbul pertanyaan siapa yang layak menjadi imam. Baginda memerintahkan kesemua tenteranya termasuk dirinya bangun lantas bertanya, "Siapa di antara kita sejak baligh hingga sekarang pernah meninggalkan solat fardhu walau sekali sila duduk!". Tiada seorang pun yang duduk, kerana tidak seorang pun di antara mereka pernah meninggalkan solat fardhu. Baginda bertanya lagi, "Siapa di antara kita yang sejak baligh hingga kini pernah meninggalkan solat sunat rawatib sila duduk!". Sebahagian daripada tenteranya duduk. Kemudian Baginda bertanya lagi, "Siapa di antara kamu sejak baligh hingga ke saat ini pernah meninggalkan solat tahajjud walaupun satu malam, sila duduk!". Kali ini semuanya duduk, kecuali Sultan Muhammad Al-Fatih sendiri. Baginda tidak pernah meninggalkan solat fardhu, Solat Sunat Rawatib dan Solat Tahajjud sejak baligh . Inilah dia anak didikan Syeikh Shamsuddin Al Wali. Benarlah, baginda sebaik-baik raja yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah di dalam Hadisnya itu, hebat dalam zikir dan fikir.


Kisah Umar Telmesani dan Hassan al-Banna, pengajaran dalam Zikir dan Fikir.


Umar Telmesani adalah bekas Mursyidul Am ketiga Ikhwanul Muslimin. Semasa Hassan al-Banna masih hidup, beliau sempat bersama al-Banna dalam satu perjumpaan di Daqhiliah. Setelah selesai dari pertemuan tersebut, al-Banna pulang ke penginapannya bersama Umar dan masuk ke biliknya. Masing-masing mengambil tempat di katil yang telah disediakan untuk berehat dan tidur. Tidak berapa lama kemudian, al-Banna bertanya kepada sahabatnya Umar, “adalah kamu telah tidur?” maka jawab Umar, “belum”. Setelah beberapa minit, al-Banna bertanya lagi dan soalannya dijawab oleh Umar seperti tadi. Setelah beberapa minit, ditanya lagi soalan yang sama dan dijawab oleh Umar seperti tadi menunjukkan beliau belum tidur. Lalu Umar berkata dalam hatinya, “kalau al-Banna bertanya lagi soalan yang sama kali ini, aku nak berpura-pura tidur”.


Tidak lama selepas itu, al-Banna bertanya lagi soalan yang sama dan kali ini Umar tidak menjawab. Lalu Hassan al-Banna bangun perlahan-lahan dari katil kerana menyangka Umar telah tidur lalu pergi ke bilik air untuk memperbaharui wudhu’nya dan terus ke ruang tamu untuk menunaikan solat tahajjud. Al-banna tidak mahu qiamullailmya diketahui orang. Masya Allah…

Penulis pernah mendengar cerita kehebatan al-Banna yang selalu menaiki keretapi dan solat jemaah di masjid, daerah berbeza sambil memikirkan masalah ummat dan berdakwah siang dan malam. Hebat sekali zikir dan fikir beliau…


Perjuangan Islam : Zikir dan Fikir.


“Kita sangat tumpukan gerak kerja kononnya kerana cintakan Allah tetapi ibadah yang kita lakukan tidak menunjukkan kita sebenar-benarnya cintakan Allah. Solat kita bagaimana. Tahajjud kita entah ke mana. Betulkah kita bergerak kerja kerana cintakan Allah?” kata-kata Kak Na dalam satu liqo’ tarbiyyah beberapa bulan yang lalu menggoncang hati penulis. Satu muhasabah yang menaikkan bulu roma penulis. Allahuakbar…..benar, kekadang kita mengakui bahawa kita sudah berjuang dan berkorban kerana cintakan Allah, akan tetapi ianya tidak terjelma dalam ibadah kita. Mungkin ada sedikit masalah dalam hati kita. Bukan kerana jalan perjuangan yang tidak benar, akan tetapi masalah hati yang mengundang musibah. Masalah sebeginilah akhirnya membawa fitnah kepada jalan dakwah dan perjuangan Islam.


Adalah kita hendak mengadap Allah dalam keadaan sedemikian? Mengadap Allah dengan muka yang tebal mengakui, “aku telah bersusah payah, berjaga malam merancang strategi dan bergerak kerja untukMu Ya Allah….” Tetapi dalam masa yang sama Subuh entah ke mana? Tahajjudnya semakin jauh. Al-Quran ditinggalkan…… Alangkah takutnya kita sekiranya catatan amalan dan gerak kerja kita akan dicampakkan Allah ke muka kita kerana masalah-masalah hati yang berpenyakit. Apakah zikir kita terabai kerana kita terlalu banyak berkorban untuk berfikir? Adakah pengorbanan, sibuk dan fikir kita lebih daripada Rasulullah? Adakah strategi kita lebih hebat dari Sultan Muhammad al-Fatih? Adakah letihnya kita dalam perjuangan mengatasi al-Banna? Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami Ya Allah…….


Sesungguhnya, orang-orang beriman itu diceritakan oleh Allah :


“Orang-orang yang berZIKIR (ingat) kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan mereka berFIKIR tentang apa yang diciptakan Allah seraya berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya segala ciptaanMu bukanlah sesuatu yang sia-sia. Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari azab neraka…”


Konklusi


Dengan ZIKIR, diharapkan ianya mejadi bekalan bagi kita yang bercita-cita untuk menjadi murabitun agar tidak menjadi mutasaqitun di jalan dakwah. Semoga Allah mengampunkan kita disamping kita mampu meningkatkan FIKIR dan memperkasakan ZIKIR sebagai bekalan dalam perjuangan Islam. FIKIR bukan alasan untuk meninggalkan ZIKIR, ZIKIR bukan alasan untuk melupakan FIKIR….


" Ya Allah, ampunilah kami hambaMu yang dhaif lagi hina, tetapkanlah hati-hati kami di atas landasan perjuangan agamamu.... Ameen..."


Wallaua’lam…..


Posted by Mohd Idris Bin Mohd Yussoff…